Senin, 17 Oktober 2011

Makalah Mesin Bubut


RANCANG BANGUN INSTALASI SISTEM
KONTROL PADA OTOMASI MESIN BUBUT ALPINE-350
Oleh
Awaludin Setiawan
Politeknik Negeri Semarang

ABSTRAK
RANCANG BANGUN INSTALASI SISTEM KONTROL PADA OTOMASI MESIN BUBUT ALPINE-350.
Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir terdiri dari beberapa bidang, khusus untuk peralatan bengkel yang dikelola Bidang Operasi Fasilitas. Peralatan tersebut salah satunya adalah mesin bubut dengan pengoperasian secara konvensional. Seiring dengan perkembangan zaman, mesin bubut dituntut untuk menghasilkan benda kerja dengan presisi tinggi. Untuk memecahkan masalah tersebut maka retrofit mesin bubut harus dimodifikasi unjuk kerja manual menjadi Numerical Control (NC), belum menggunakan sistem Computer Numerically Controlled (CNC) yaitu menggunakan komputer secara keseluruhan. Untuk menunjang agar mesin bubut bekerja secara optimal maka dibuat sistem operasional dengan menggunakan beberapa komponen untuk menunjang bekerjanya sistem kontrol dengan baik. Sistem kontrol tersebut salah satunya adalah seperangkat Program Logic Control (PLC) lengkap dengan asesorisnya yang yang berfungsi untuk mengoperasikan motor servo dalam pembuatan benda kerja, alat pendukung lainnya seperti kontaktor, relai 24 volt AC dan DC serta komponen trafo step down sebagai suplay untuk PLC. Catu daya yang dibutuhkan berupa arus bolak-balik dan
searah. Dengan retrofit mesin bubut menjadi NC pengoperasian mesin menjadi lebih efisien dan ketelitian mesin dapat ditingkatkan serta tidak tergantung terhadap ketrampilan seseorang operator.Kata kunci: Retrofit, mesin bubut, PLC, kontaktor, relai
ABSTRACT
INSTALLATION DESIGN OF CONTROL SYSTEM ON AUTOMATION LATHE MACHINE
ALPINE-350.
 Center for Reactor Technology and Nuclear Safety consists of several fields, especially for equipment repair shop run by Field Operations Facility. The equipment had been one of them is a lathe with a conventional operation. Along with the development of the age, lathe machine required to produce workpieces with high precision. To solve these problems then the lathe retrofit performance must be modified manually into the Numerical Control (NC), yet uses a system of Computer Numerically Controlled (CNC) that is using the computer as a whole. To support the lathe in order to work optimally, the system was made operational by using several components to support the control system works well. The control system is one of them is a set of Program Logic Control (PLC) complete with accessories that are used to operate the servo motor in the manufacture of workpieces, and other supporting devices such as contactors, relays 24 volt AC and DC as well as step-down transformer components as the supply for the PLC. The power supply is needed in the form of alternating current and DC current. With retrofit into NC lathe machine operations become more efficient and precision machinery can be enhanced and less dependent on operator skill. Keywords: Retrofit, lathe machine, PLC, contactor, relay.

PENDAHULUAN
Mesin bubut, terlihat pada Gambar 1,merupakan suatu alat atau mesin yang memerlukan catu daya yang dipergunakan untuk mendeformasikan dan memotong material ke dalam bentuk, ukuran produk atau benda kerja sesuai dengan yang dikehendaki. Ketika mesin perkakas sedang dioperasikan untuk pembuatan suatu benda kerja, program instruksi dapat diberikan pada mesin tersebut untuk memproses pembuatan benda kerja tersebut. Subbidang Elektromekanik pada Bidang Operasi Fasilitas-PTRKN mengelola berbagai mesin perkakas seperti mesin frais, bubut, tekuk, gerinda, crane, las, dan sebagainya. Peralatanperalatan tersebut dibuat pada tahun 1986-an, seluruh mesin yang ada di Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir masih menggunakan sistem manual atau konvensional[1]. Seiring dengan perkembangan zaman, mesin tersebut dituntut untuk menghasilkan benda kerja dengan ketelitian tinggi. Untuk memecahkan masalah tersebut, kegiatan retrofit mesin-mesin tesebut harus dilakukan dengan cara memodifikasi unjuk kerja manual atau konvensional menjadi (CNC). Selain ketelitian yang tinggi sistem NC atau CNC juga memberikan keuntungan lain berupa penghematan waktu.Kegiatan retrofit mesin bubut merupakan kegiatan besar yang meliputi kegiatan mekanik, elektrik/instrumentasi dan pemrograman. Hingga saat ini, kegiatan retrofit telah berhasil diselesaikan dengan mengubah sistem kerja mesin bubut dari konvensional menjadi NC. Sehingga untuk mengoperasikan mesin bubut Alpine-350 dalam pembuatan benda kerja gerakan eretan arah radial dan arah aksial pada mesin bubut dilakukan oleh motor servo. Sistem operasi motor servo pada kedua eretan tersebut dikendalikan oleh PLC dengan pemrograman menggunakan software APM yang telah diinstall pada perangkat komputer.Makalah ini membahas tentang instalasi system kontrol, dimana instalasi tersebut terdiri beberapa komponen yang dirangkai menjadi satu kesatuan untuk mengotrol gerakan motor servo dan ditempat dalam satu panel. Otak kontrol ini menggunakan PLC, karena pada retrofit mesin bubut masih mengubah sistem operasi konvensional menjadi NC jadi belum menggunakan komputer secara keseluruhan.
Gambar 1. Mesin Bubut
METODOLOGI
Bahan dan Alat
- Panel ukuran 50cm x 70cm x 30cm.
- PLC lengkap dengan asesorisnya.
- Catu Daya
- Bor magnetik.
- Mur baut pengikat.
- Solder.
- Multimeter.
- Kabel, tombol NC NO, timah, key lock, label.
Prosedur
Dalam kegiatan rancang bangun instalasi sistem kontrol pada otomasi mesin bubut tipe
Alpine-350, langkah pertama yang dilakukan adalah pembuatan gambar untuk merencanakan penempatan komponen-komponen yang akan
dipasang pada panel kontrol seperti terlihat pada Gambar 2. Kemudian dilanjutkan pengeboran lubang baut pada lembaran panel sesuai dengan posisi lubang baut pada komponen sehingga komponen dapat dipasangkan tanpa menemui kendala. Pemasangan komponen harus dikerjakan dengan hati-hati sebab PLC merupakan komponen yang mudah rusak. Urutan kegiatan yang dilakukan saat pemasangan komponen pada panel control dalam penginstalasian seperti (a) pemasangan servo drive untuk motor X (arah radial) dan motor Y (arah aksial), (b) pemasangan kontaktor catu daya utama dan kontaktor servo drive, (c) pemasangan terminal kabel power , terminal data dan sekring,
(d) pemasangan trafo step down, (e) pemasangan perangkat PLC. Setelah komponen-komponen tersebut terpasang dengan benar, dilanjutkan dengan kegiatan pengkabelan atau penginstalasian sehingga seluruh komponen tersebut terhubung sesuai dengan yang direncanakan.
Gambar 2. Penempatan komponen pada panel
Gambar disain rangkaian sistem catu daya
merupakan acuan dalam kegiatan penginstalasian, dengan mengacu gambar disain tersebut dapat menghindari terjadinya kesalahan penginstalasian terutama untuk instalasi data dan instalasi catu daya, karena instalasi data menggunakan tegangan
rendah dan mudah terpengaruh induksi listrik.Sedangkan instalasi catu daya menggunakan tegangan AC 220 volt dan 24 volt, serta tegangan DC 24 volt. Catu daya atau sumber-sumber tegangan tersebut akan digunakan oleh komponenkomponen pada panel kontrol dan motor servo, prinsip kerja disain sistem catu daya otomasi mesin
bubut ditunjukan dalam Gambar 3.
Untuk keamanan, maka digunakan sekering pada tiap jalur. Jalur ini dilengkapi dengan kunci pengaman (key lock) melalui sebuah kontaktor. Key lock inilah yang harus dihidupkan pertama kali ketika operator akan mengoperasikan mesin bubut. Dengan adanya key lock ini mesin bubut dapat dikunci sehingga tidak sembarang orang dapat mengoperasikannya tanpa sepengetahuan penanggung jawab mesin bubut tersebut.
Gambar 3. Rangkaian sistem catu daya
Disain rangkaian kontrol seperti terlihat pada Gambar 4, merupakan prinsip kerja kontrol pada otomasi mesin bubut tipe Alpine-350. Untuk kerja sistem kontrol otomasi mesin bubut ini adalah sebagai berikut :
- Apabila tombol ON ditekan, maka pada koil start akan mendapatkan arus yang
mengakibatkan koil start terjadi medan magnet kemudian akan menarik tuas pada start M1 dan start M2 bersamaan, dan arus listrik mengalir pada kontaktor servo X dan servo Y. Ry1, Ry2 dan MCX,MCY menutup sehingga jika tombol ON dilepas servo X dan servo Y masih tetap dialiri arus.
- Apabila tombol OFF ditekan, maka arus yang melalui servo X dan servo Y terputus seketika itu juga MCX dan MCY terbuka. Akibatnya servo X dan Y tetap tidak berfungsi walaupun tombol OFF dilepas.
- Apabila salah satu dari kedua motor servo mengalami gangguan (terjadi error) maka servo akan membuka saklar Ry1 pada motor servo X atau saklar Ry2 pada motor servo Y tergantung motor mana yang mengalami gangguan yang mengakibatkan motor yang mengalami gangguan berhenti.
Gambar 4. Rangkaian sistem kontrol
TEORI DASAR
Numerical control atau biasa disingkat NC mempunyai arti kontrol numerik merupakan system otomatisasi mesin perkakas melalui pemrograman dan dapat disimpan dimedia penyimpan elektronik berupa flash disk, CD, memory card atau hardisk eksternal. Hal ini berbeda dengan system pengoperasian mesin perkakas konvensional dimana untuk megoperasikan mesin tersebut dikontrol dengan putaran tangan atau otomatisasi sederhana menggunakan cam. Mesin NC pertama diciptakan pertama kali sekitar tahun 1940 dan 1950, dengan memodifikasi mesin perkakas biasa.Modifikasi tersebut dilakukan dengan menambahkan motor yang akan menggerakan pengontrol mengikuti titik-titik yang dimasukan kedalam sistem oleh perekam kertas. Mesin perpaduan antara servo motor dan mekanis ini segera menggantikan sistem konvensional dan kemudian berkembang lagi dengan menggunakan komputer digital sebagai sarana pengoperasiannya sehingga terwujudlah mesin perkakas modern yang disebut mesin Computer Numerical Control (CNC) yang dikemudian dapat merevolusi proses
pembuatan benda kerja berdasarkan desain[2].Mesin CNC tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat dengan program CAD, hal ini dikarenakan bahasa pemrograman mesin CNC yaitu G-Code dapat diperoleh dengan mengkonversi model tiga dimensi menjadi G-Code.Mesin-mesin CNC dibangun untuk dapat menjawab tantangan di dunia manufaktur modern, dengan mesin CNC, ketelitian suatu produk dapat dijamin hingga 0,01 mm dan pengerjaan produk masal dengan hasil yang sama serta waktu pengerjaan cepat dapat dilakukan.Kegiatan peningkatan kinerja mesin bubut dalam bentuk retrofit mesin dari manual menjadi NC meliputi kegiatan di bidang mekanik, elektrik / instrumentasi dan pemrograman. Kegiatan mekanik meliputi perubahan sistem penggerak yang semula
digerakkan secara manual oleh operator diganti dengan motor servo. Dengan adanya motor servo sebagai penggerak sehingga dibutuhkan dudukan motor servo, kopling, dan panel kontrol yang berisikan perangkat instrumentasi sebagai system operasi motor servo. Kegiatan elektrik / instrumentasi meliputi penentuan trafo step down dari 380 / 220 volt menjadi 220 / 110 volt tiga fase, koneksi sistem arus kuat, pengkabelan dari motor servo ke driver dan lain-lain. Bagian akhir dari rangkaian kegiatan retrofit adalah pemrograman,setting dan kalibrasi sistem mekanik dan numerik.Seluruh rangkaian kegiatan berjalan saling mendukung satu sama lain sehingga menghasilkan satu mesin bubut dengan sistem kontrol yang baru dan berbasis pada Progrmable Logic Controller (PLC) dengan menggunakan software APM untuk pengoperasiannya. Secara umum penambahan sistem kontrol NC ditunjukkan pada Gambar 5 di bawah ini[3].
Gambar 5. Prinsip kerja sistem kendali NC untuk mesin bubut
Modifikasi yang dilakukan pada mesin bubut tipe Alpine-350 yaitu dengan menggantikan gerakan manual operator pada engkol eretan arah radial dan aksial dengan motor servo yang dikontrol oleh sistem kendali NC melalui driver motor. Gerakan motor dapat diprogram dengan software APM sesuai dengan yang dikehendaki oleh operator melalui perangkat komputer. PLC merupakan sistem yang dapat memanipulasi,mengeksekusi, dan atau memonitor keadaan proses pada laju yang amat cepat dengan dasar data yang bisa diprogram dalam sistem berbasis mikroprosesor integral[4] . PLC menerima masukan dan menghasilkan keluaran sinyal-sinyal listrik untuk mengendalikan suatu sistem. Dengan demikian besaran-besaran fisika dan kimia yang dikendalikan sebelum diolah oleh PLC, akan diubah menjadi sinyal listrik baik analog maupun digital, yang merupakan data dasarnya. Karakter proses yang dikendalikan oleh PLC sendiri merupakan proses yang sifatnya bertahap, yakni proses itu berjalan urut untuk mencapai kondisi akhir yang diharapkan. Bentuk fisik PLC seperti terlihat pada Gambar 6 dibawah ini.
Gambar 6. Rangkaian PLC
Kontaktor, seperti pada Gambar 7, yang digunakan pada retrofit mesin bubut berfungsi sebagai saklar elektronik untuk menggerakan motor yang mempunyai daya besar dan tegangan 220 volt, koil untuk mengendalikan kontaktor bertegangan 24 volt AC, tegangan koil ini cukup aman dari bahaya sengatan listrik apabila terjadi kecelakaan kerja pada operator. Unjuk kerja kontaktor magnetis sama dengan relay elektromekanis (EMR) yaitu kontaktor bekerja apabila kumparan diberi catu daya listrik. Untuk kontaktor magnetis tiga phasa hanya digunakan untuk harus bolak-balik (AC) dapat mensuplai daya cukup besar dan arus kuat sedangkan relay elektromekanis umumnya digunakan pada rangkaian elektronika dengan daya relatif kecil arus lemah tegangan searah (DC).Keduanya mempunyai keistimewaan penting yang umum yaitu kontaktor bekerja apabila kumparan diberi energy[5]. National Electrical Manufacture Assosiation (NEMA) mendefinisikan kontaktor magnetis sebagai alat yang digerakkan secara magnetis untuk menyambung atau memutuskan secara berulang-ulang rangkaian daya listrik dengan tanpa merusak pada beban yang dapat berupa lampu, pemanas, transformator, motor listrik dan lain-lain.
Gambar 7. Kontaktor tiga fasa dan relay
HASIL
Mesin bubut berupa konversi mesin bubut konvensional menjadi mesin bubut berbasis NC dapat meningkatkan kinerja mesin baik dalam hal efisiensi pengoperasian maupun tingkat ketelitian.Penggunaan motor servo sebagai penggerak eretan radial dan eretan aksial merupakan pilihan yang tepat karena pengoperasian motor servo mudah dilakukan dengan menggunakan PLC dan pemrograman menggunakan software APM.Pengoperasian PLC sangat tergantung dari instalasi atau pengkabelan yang menghubungkan komponen-komponen termasuk PLC dalam suatu panel kontrol, dengan demikian rancang bangun instalasi sistem kontrol perlu dilakukan untuk mendukung kegiatan retrofit mesin bubut tersebut.Rancang bangun instalasi sistem control pada otomasi mesin bubut terdiri dari instalasi catu daya yang berfungsi memberikan catu daya listrik pada komponen-komponen dan instalasi control yang berfungsi mengatur beroperasinya komponenkomponen, dimana instalasi sistem kontrol tersebut ditempatkan dalam suatu panel kontrol .
Pengujian mesin bubut NC hasil modifikasi dilakukan dengan cara mengoperasikan mesin untuk melakukan pembubutan arah radial dan aksial pada benda kerja berupa besi silinder pejal dan didapatkan hasil pembubutan yang cukup memuaskan. Dengan demikian kegiatan retrofit mesin bubut yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja mesin bubut telah berhasil diselesaikan dengan baik dan benar,
dan untuk rencana selanjutnya akan dilakukan peningkatan sistem pengoperasian mesin bubut dari NC menjadi CNC.


KESIMPULAN
Sistem control pada mesin bubut tipe Alpine-350 perlu dilakukan untuk mendukung peningkatan kinerja mesin bubut.Peningkatan kinerja berupa otomasi mesin bubut berbasis Numerical Controller dapat mengurangi ketergantungan terhadap ketrampilan seseorang operator tertentu dalam mengoperasikan mesin bubut. Kegiatan pengembangan mesin bubut selanjutnya menjadi mesin berbasis Computer Numerical Controller siap untuk dilakukan.


DAFTAR PUSTAKA
1. SATMOKO, A., “Optimalisasi Laboratorium dan Fasilitas Dukung Teknologi dan
Keselamatan”, Usulan Kegiatan PTRKN, 2009.
2. HAFID, A., “Otomasi Mesin Bubut dengan Kontrol Numerik Tahap 2 dan Optimalisasi Peralatan Bengkel”, Usulan Sub kegiatan PTRKN, Agustus 2009.
3. ANONYMOUS, ”Mecapion HX-Model System H/W”, Dalseo–Gu, Daegu, Korea, 2007.
4. TJAHJONO, A., “Programmable Logic Controller”, Politeknik Elektronika Negeri
Surabaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 1998.
5. SUMANTO, “Generator Sinkron dan Motor Sinkron ”, Yokyakarta.


Rabu, 20 Juli 2011

Sejarah Blink 182

BLINK 182


ASAL MUASAL

Blink 182 terbentuk tahun 1992 di Poway, California. Saat itu, Mark Hoppus baru aja dapat bas baru dari bokapnya karena bantuin ngecat rumah. Kemudian dengan perantara kakaknya Mark berkenalan dengan Tom DeLonge. Saking pengennya meng-impress Tom, Mark bela-belain lompat dari atap rumah sampe kakinya patah.
Mereka lalu mulai bikin-bikin lagu, tapi mereka baru sadar kalo butuh drumer. Maka bergabunglah Scott Raynor (asal usul dia kurang jelas, kadang datang tak diundang – pulang tak diantar..), dinamailah BLINK. Saat itu, Tom baru 16 tahun, Mark 19 tahun dan Scott 17 tahun. Rekaman mereka yang pertama, FLYSWATTER, kualitasnya ancur banget, karena direkam di kamar Tom cuma make tape-recorder (gaya-gaya wartawan githu). Album ini berisi 4 lagu dan hanya terdapat sekitar 50 copy saja yang kemudian diberikan kepada teman, pacar, kenalan, family dan keluarga tercinta.
Berkat perjuangan dan doa orang tua, akhirnya mereka mulai terkenal dan lagu-lagu mereka mulai dilirik label-label underground.  Pada awalnya, band mereka make nama Blink.  Berhubung juga ada band techno asal Irlandia yang juga make nama Blink, jadi mereka tambahin angka 182 dibelakangnya, BLINK 182. Why 182? Why…? Tanya, Kenapa? Fans bilang 182 adalah 182 kali umpetan F*** yang diucapkan Tony Montana di Scarface, tapi Mark bilang 182 cuma random number that sounds cool.



Pada tahun 1993 dengan Filter Record mereka merilis demo yang berjudul BUDDHA sebanyak 1000 copy. Di awal tahun 1994, Blink 182 menandatangani kontrak dengan Cargo Records. Mereka merekam debut album penuhnya, CHESHIRE CAT dalam tiga hari. Beberapa isi albumnya merupakan versi baru lagu Strings dan Carousel yang terdapat dalam album demo Buddha.
Tahun 1996 Blink 182 menandatangani kontrak dengan MCA yang kemudian berubah nama menjadi Geffen Records. Setelah pindah ke Encinitas, California, mereka merekam album DUDE RANCH pada 1996 dengan diproduseri Mark Trombino, yang dirilis setahun kemudian. Album ini terbilang sukses karena terjual sebanyak 4 juta copy di seluruh dunia. Single mereka Dammit berjaya di US modern rock charts.
Tur resmi pertama mereka dihiasi dengan kejadian ga enak. Scott Raynor dikeluarin dari band karena drugs and alcohol habit-nya yang udah parah dan nggak bisa di kontrol lagi (taukan lagu Man Overboard, nah ntuh sebenernya alasan kenapa mereka nge-kick out Scott). Ketika mulai kebingungan mencari penggantinya Scoot, kebetulan saat itu Blink 182 tur dengan band pembuka namanya THE AQUABATS. Mungkin emang udah jodoh, tau Blink lagi ga punya drumer, dengan cuek bebek dan wajah sok-sok imut si drumer Aquabats PD aja nawarin diri ngisi posisinya Scott. Tau Siapa Dia…? Drumer itu, tak lain dan tak bukan adalah Travis Barker.
Dengan gayanya seperti ini dialognya…..
Trav : Hai Shob katanya lagi nyari drumer yah?
Tom : Iya neh si Scott payah udah nggak bisa di kontrol. Emang loe bisa gantii posisi dia?
Trav : Woe!!! Jangankan lagu Blink, lagu engkongnya Blink juga gw bisa.  Sekalian aja sini lagu Blink gw mainin ama tanjidor (Lom tau neh bocah ma gw — maki Travis dalam hati)
Tom : Cape deh landak!!! Tapi gaya loe boleh juga tonk. Coba deh loe mainin lagu kita
Trav : No Problemo Bro, sapa takut!
Lalu dia dengerin lagu mereka, dan bukan sulap bukan sihir hanya dalam tempo 30 menit si BONES udah bisa maenin semua lagunya Blink…Benar-benar jenius, ga ada matee nya!!!!!
Awalnya si Travis cuma sebagai aditional player. Mungkin karena takut ama tatoo dan model rambutnya si The Baron Von Tito, akhirnya Tom dan Mark resmi mengangkat Travis sebagai Drumer Blink 182. [The Baron Von Tito adalah nama panggung Travis di The Aquabats]




BLINK 182 – MELEJITNYA KARIER



 
Pada 1999, dalam proses pembuatan album ENEMA OF STATE, Blink 182 mempekerjakan Jerry Finn sebagai produser. Album ini membawa Blink 182 ke dunia mainstream dengan hit single Whats My Age Again, All The Small Things dan Adams Song yang sering diputar di radio dan ditayangkan di MTV. Penjualannya mencapai 10 juta copy di seluruh dunia dan menjadi best selling album saat itu.Di tahun 2000 Blink 182 merilis album live berjudul THE MARK, TOM AND TRAVIS SHOW : THE ENEMA STRIKES BACK dengan isi materi dari tiga album sebelumnya dan tambahan lagu studio Man Overboard.  Blink 182 melanjutkan kesuksesannya dengan merilis album TAKE OFF YOUR PANTS AND JACKET di tahun 2001. Album ini benar-benar sukzes,,zes,zeessss kaya kacang garing yang enak,gurih dan juga nikmat. Kalian pasti udah pada taukan lagu-lagunya, jadi ga perlu dikasih tau lagi.
Setelah menghabiskan waktu ditahun 2002, rekaman untuk album selanjutnya dimulai pada 18 Nopember 2003 dan menghasilkan hit single Feeling This, I Miss You, Down dan Im Lost Without You. Barker mengatakan Blink 182 sengaja membiarkan albumnya tanpa judul (beda dengan self-titled) untuk mewakili Blink 182 yang baru.



BLINK 182 – SELAMANYA TAK SELALU ABADI

Karena nama mereka udah terkenal, mereka mulai merambah bisnis laen, untungnya bukan seperti artis-artis indonesia yang make aji mumpung nyoba nyanyi ato maen sinetron. Tom dan Mark bikin label clothing ATTICUS dan MACBETH, Travis join ama temennya bikin label FAMOUS STARS AND STRIPES.  Mareka juga udah mulai bikin band sampingan. Mulai dari sini masalah mulai timbul.  Tom bikin band bareng Travis yang namanya BOX CAR RACER dan sukses ngluarin satu album dengan single I Feel So.



Liat tuch foto Nggak ada Mark.Akhirnya Mark mulai ngambek, seperti yang dikutip majalah Kerrang!, BETRAYED katanya…Dia ngerasa ga diajak (ya iyalah, kalo dia diajak sama aja namanya blink 182!). Tapi yang jelas, dia marah dan mulai adu mulut. Tapi masih bisa diredamlah ampe akhirnya…
Di pertengahan Februari 2005, Blink 182 membatalkan performnya di Music For Reliefs Concert For South Asia, yang kemudian pada tanggal 22 Februari 2005 diumumkan bahwap embatalan tersebut dikarenakan Blink 182 akan vakum untuk sementara waktu.  Geffen Records merilis GREATEST HITS pada 1 Nopember 2005 di US, di dalamnya termasuk unreleased track Another Girl Another Planet (sebuah cover song dari The Only Ones) dan bonus track Not Now.  Banyak yang bilang kalo lagu Not Now itu lagu blink yang terbaru. Tapi itu Bulls**t! Asal tau aja, lagu Not Now itu udah direkam di album Blink 182 khusus untuk daerah UK! (Jangan-jangan kalian juga ga tau ama UK…)  Coba kalian cari cd DRAGGING THE LAKE PART 3 keluaran tahun 2004 ada kok lagu Not Now. Kalo masih ga percaya, beli aja sendiri!!!!
Kabarnya tanggal 22 Februari 2005, Blink 182 resmi bubar. Tapi Who Know?? Pemicunya masalah lama antara Tom ama Mark tentang Box Car Racer, dan keinginan Tom buat lebih fokus sama keluarga.  Tanggal 23 Mei 2006, Tom mengumumkan band barunya ANGEL AND AIRWAVES yang kemudian merilis album WE DONT NEED TO WHISPER.



Ga mau kalah, Mark dan Travis juga bikin band +44 yang kemudian merilis album WHEN YOUR HEART STOPS BEATING pada 14 Nopember 2006.


So...kita fans berat Blink 182 nggak mau pecah belah yang kami inginkan yaitu Blink 182 dapat kembali menghibur fans2nya.


BLINK 182 – IS BACK
  Pada saat acara Grammy Stage para personil Blink 182 naik keatas panggung untuk membacakan nominasi dan mereka menjelaskan bahwa mereka akan kembali lagi untuk buat lagu lagi yaitu Up All Night

So...buat para penggemar Blink 182 gue harap kita harus mendoakan agar Blink 182 dapat kembali lagi.




Sejarah Listrik Indonesia

Sejarah Ketenagalistrikan di Indonesia dimulai pada akhir abad ke-19, ketika beberapa perusahaan Belanda mendirikan pembangkit tenaga listrik untuk keperluan sendiri. Pengusahaan tenaga listrik tersebut berkembang menjadi untuk kepentingan umum, diawali dengan perusahaan swasta Belanda yaitu NV. NIGM yang memperluas usahanya dari hanya di bidang gas ke bidang tenaga listrik.

Selama Perang Dunia II berlangsung, perusahaan-perusahaan listrik tersebut dikuasai oleh Jepang dan setelah kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945, perusahaan-perusahaan listrik tersebut direbut oleh pemuda-pemuda Indonesia pada bulan September 1945 dan diserahkan kepada Pemerintah Republik Indonesia.

Pada tanggal 27 Oktober 1945, Presiden Soekarno membentuk Jawatan Listrik dan Gas, dengan kapasitas pembangkit tenaga listrik saat itu sebesar 157,5 MW.

Tanggal 1 Januari 1961, Jawatan Listrik dan Gas diubah menjadi BPU-PLN (Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara) yang bergerak di bidang listrik, gas dan kokas.

Tanggal 1 Januari 1965, BPU-PLN dibubarkan dan dibentuk 2 perusahaan negara yaitu Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang mengelola tenaga listrik dan Perusahaan Gas Negara (PGN) yang mengelola gas. Saat itu kapasitas pembangkit tenaga listrik PLN sebesar 300 MW.

Tahun 1972, Pemerintah Indonesia menetapkan status Perusahaan Listrik Negara sebagai Perusahaan Umum Listrik Negara (PLN). Tahun 1990 melalui Peraturan Pemerintah No. 17, PLN ditetapkan sebagai pemegang kuasa usaha ketenagalistrikan.

Tahun 1992, pemerintah memberikan kesempatan kepada sektor swasta untuk bergerak dalam bisnis penyediaan tenaga listrik. Sejalan dengan kebijakan di atas, pada bulan Juni 1994 status PLN dialihkan dari Perusahaan Umum menjadi Perusahaan Perseroan (Persero).

Perkembangan PLN

setelah terbentuk menjadi persero di tahun 1992, PT. PLN (persero) memiliki beberapa aktifitas bisnis, antara lain:

1. Di bidang Pembangkitan listrik
Pada akhir tahun 2003 daya terpasang pembangkit PLN mencapai 21.425 MW yang tersebar di seluruh Indonesia.
Kapasitas pembangkitan sesuai jenisnya adalah sebagai berikut :
- Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), 3.184 MW
- Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), 3.073 MW
- Pembangkit Llistrik Tenaga Uap (PLTU), 6.800 MW
- Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), 1.748 MW
- Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU), 6.241 MW
- Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), 380 MW

2. Di bidang Transmisi dan Distribusi Listrik
Di Jawa-Bali memiliki Sistem Interkoneksi Transmisi 500 kV dan 150 kV sedangkan di luar Jawa-Bali PLN menggunakan sistem Transmisi yang terpisah dengan tegangan 150 kV dan 70 kV.

Pada akhir tahun 2003, total panjang jaringan Transmisi 500 kV, 150 kV dan 70 kV mencapai 25.989 kms, jaringan Distribusi 20 kV (JTM) sepanjang 230.593 kms dan Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sepanjang 301.692 kms.

Sistem Kontrol
Pengaturan daya dan beban Sistem Ketenagalistrikan di Jawa-Bali dan supervisi pengoperasian sistem 500 kV secara terpadu dilaksanakan oleh Load Dispatch Center / Pusat Pengatur Beban yang terletak di Gandul, Jakarta Selatan. Pengaturan operasi sistem 150 kV dilaksanakan oleh Area Control Center yang berada di bawah pengendalian Load Dispatch Center. Di Sistem Jawa-Bali terdapat 4 Area Control Center masing-masing di Region Jakarta dan Banten, Region Jawa Barat, Region Jawa Tengah & DI Yogyakarta dan Region Jawa Timur & Bali.

Cakupan operasi PLN sangat luas meliputi seluruh wilayah Indonesia yang terdiri lebih dari 13.000 pulau.

Dalam perkembangannya, PT PLN (Persero) telah mendirikan 6 Anak Perusahaan dan 1 Perusahaan Patungan yaitu :

* PT Indonesia Power; yang bergerak di bidang pembangkitan tenaga listrik dan
usaha-usaha lain yang terkait, yang berdiri tanggal 3 Oktober 1995 dengan
nama PT PJB I dan baru tanggal 1 September 2000 namanya berubah menjadi
PT Indonesia Power.

* PT Pembangkitan Jawa Bali (PT PJB) ; bergerak di bidang pembangkitan tenaga
listrik dan usaha-usaha lainyang terkait dan berdiri tanggal 3 Oktober 1995
dengan nama PT PJB II dantanggal 22 September 2000, namanya berubah
menjadi PT PJB.

* Pelayanan Listrik Nasional Batam (PT PLN Batam); yang bergerak dalam usaha
penyediaan tenaga listrik bagi kepentingan umum di Wilayah Pulau Batam,
didirikan tanggal 3 Oktober 2000.

* PT Indonesia Comnets Plus, yang bergerak dalam bidang usaha telekomunikasi
didirikan tanggal 3 Oktober 2000.

* PT Prima Layanan Nasional Enjiniring ( PT PLN Enjiniring), bergerak di bidang
Konsultan Enjiniring, Rekayasa Enjiniring dan Supervisi Konstruksi, didirikan
pada tanggal 3 Oktober 2002.

* Pelayanan Listrik Nasional Tarakan (PT PLN Tarakan), bergerak dalam usaha
penyediaan tenaga listrik bagi kepentingan umum di wilayah Pulau Tarakan.

* Geo Dipa Energi, perusahaan patungan PLN - PERTAMINA yang
bergerak di bidang Pembangkit Tenaga Listrik terutama yang menggunakan
energi Panas Bumi.


Sebagai Perusahaan Perseroan Terbatas, maka Anak Perusahaan diharapkan dapat bergerak lebih leluasa dengan antara lain membentuk Perusahaan Joint Venture, menjual Saham dalam Bursa Efek, menerbitkan Obligasi dan kegiatan-kegiatan usaha lainnya. Di samping itu, untuk mengantisipasi Otonomi Daerah, PLN juga telah membentuk Unit Bisnis Strategis berdasarkan kewilayahan dengan kewenangan manajemen yang lebih luas.

Konsumsi listrik di Indonesia

Konsumsi listrik Indonesia secara rata rata adalah 473 kWh/kapita pada 2003. Angka ini masih tergolong rendah dibandingkan rata rata konsumsi listrik dunia yang mencapai 2215 kWh/kapita (perkiraan 2005). Dalam daftar yang dikeluarkan oleh The World Fact Book, Indonesia menempati urutan 154 dari 216 negara yang ada dalam daftar.

Menurut koran Sindo hari Senin tanggal 9 Juni 2008 halaman 5, daftar konsumsi listrik perdaerah di Indonesia adalah (dalam satuan kWh/kapita):
1. Jakarta dan Tangerang: 1873.9
2. Sumatra Utara: 390.78
3. NAD: 206.06
4. Bali: 619.26
5. Sumatra Barat: 375.83
6. Jawa Tengah: 343.84
7. Kalimantan Selatan: 306.14
8. DIY: 398.77
9. Jawa Timur: 500.73
10. Sulawesi Selatan: 281.58
11. Sulawesi Utara: 290.78
12. Jawa Barat: 621.4
13. Banten: 1293.76
14. Maluku: 176.08
15. Kalimantan Timur: 461.7
16. Kalimantan Barat: 214.45
17. Bengkulu: 176.44
18. Bangka Belitung: 278.02
19. Sulawesi Tengah: 146.14
20. Sumatra Selatan: 256.45
21. Kalimantan Tengah: 195.87
22. Maluku Utara: 127.54
23. Lampung: 208.31
24. Gorontalo: 134.78
25. Sulawesi Tenggara: 120.22
26. Jambi: 213.91
27. Sulawesi Barat: 79.78
28. Riau: 274.21
29. NTB: 119.27
30. Papua: 180.11
31. NTT: 64.32

Rata-rata nasional: 352.59